Jumat, 12 November 2010
SIM KABUPATEN CIREBON bebas CALO KKN, tapi …
kinerja kepolisian kali ini banyak mengalami kemajuan. Pembenahan sistem yang semakin "apik" hingga birokrasi yang "dipangkas" dari keterlibatan calo-calo nakal menjadi bukti eksistensi kepolisian saat ini. Bahkan peran kepolisian (densus 88:red) dalam pemberantasan kasus terorisme dan perampokan,boleh dibilang "dahsyat". Bagaimana tidak, masyarakat dapat menyaksikan detik-detik penyergapan teroris secara "live" dari layar televisi. Ketegangn serupa di TKP dapat kita rasakan. Dan ketika misi tuntas maka "gayung pun bersambut" apresiasi dan ucapan selamat pun berdatangan mengiringi senyum dari keberhasilan patriot bangsa ini.
Meski sempat menuai kritik dan kontroversi dari "pentolan kawakan" pendahulunya,tapi “hitam tetaplah hitam, putih tetap putih” mungkin hanya masyarakat sendirilah yang dapat menilainya. Karena disini kita tidak mencari sebuah kesalahan, tapi membangun keterbaikan dari setiap langkah.
Baiklah, kita kembali pada topik semula..
“Bkin SIM brsih dari kcurngn & calo..
Tpi yg lu2s uji tls j hnya 20%
uji prktek lbih2
nyaris tak ad yg lu2s!
Pdhl jmlh pmhon sngt bnyk
...sstem & birokrasi yg tlh dianggp ideal olh kplsian hndakny jg mmprhtikan nlai2 toleransi moral
agr angka klu2sn sgera branjak dr "telor" mnjdi "bmbu rncing"
jgn smpai brokrasi qt yg brsih mlah brimplikasi pda "brsihny tngkt klu2sn"
doubLe_dE BAABSS”
Saya langsung update “status” di facebook setelah mengikuti ujian SIM di wilayah kabupaten Cirebon. Sungguh tak dikira, ternyata untuk mendapatkan SIM ini cukup sulit. Saya bersyukur karena termasuk orang yang beruntung dari sekian banyak orang yang mendaftar.
Langsung saja saya sampaikan prosedur dalam pembuatan SIM:
1. Sebelumnya sebaiknya kita siapkan berkas-berkas sebagai berikut: Fotocopy KTP (4 lmbar), Foto 4x6 (5 lembar)
2. Cek kesehatan dari Dokter (tersedia Dokter di tempat pembuatan SIM) dengan biaya Rp 20.000
3. Sidik Jari (bebas biaya), kalaupun ada dikenakan tarif Rp 10.000
4. Uji Tulis 30 soal dengan syarat lulus minimal menjawab benar 18 soal
5. Uji Praktek (motor disediakan kepolisian)
6. Administrasi SIM, untuk motor (SIM C) sebesar Rp 100.000
Sepertinya jika diamati, uji SIM memang cukup sulit bagi masyarakat kebanyakan. Untuk itu kepolisian hendaknya melakukan pembenahan lebih lanjut. Jangan hanya pembersihan calo saja, tapi lebih pada “pro masyarakat” dengan memberikan akses kemudahan. Hal kecil saja yang dapat ditempuh, misalnya pembekalan materi ujian bagi peserta melalui sosialisasi yang lebih intensif ataupun penggunaan perangkat selebaran yang berisi materi-materi penting untuk dikuasai peserta. Selain itu, pada saat praktek hendaknya peserta diberi kesempatan untuk melakukan “test track” layaknya balap kualifikasi Moto GP. Hal ini dimaksudkan agar peserta familiar dengan track yang disediakan untuk uji praktek. OK Pak Polisi..! jangan berkata tidak! Bravo kepolisian Indonesia..!!!
BacaSelengkapnya...
Sabtu, 29 Mei 2010
SEBUAH RENUNGAN HATI
DIA memberiku kaktus berduri..
Akupun minta pada-Nya hewan mungil nan cantik..
DIA memberiku ulat berbulu..
Aku sempat sedih dan protes dan kecewa...
Betapa tidak adilnya ini semua..
namun kemudian kaktus itu berbunga sangat indah...
dan ulat itu pun tumbuh dan berubah jadi kupu-kupu yang amat cantik..
Itulah jalan Allah..
Indah pada waktunya..
Allah tidak memberikan apa yang kita harapkan..
tapi DIA memberikan apa yang kita perlukan..
Kadang kita sedih, kecewa, terluka....
tapi..
Jauh di atas segalanya..
DIA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita...
doubLe_dE BABS BacaSelengkapnya...
Senin, 08 Maret 2010
KENAPA HARUS IKHLAS ???
Ketika saya dihadapkan pada suatu kebimbangan saat menghadapi “operasi” di saat sakit tepat di hari ulang tahun saya, 15 Desember.. saya ikhlas & penuh kepasrahan melalui tangan seorang dokter yang akan mengambil “utusan” dalam tubuh saya. Saya ikhlaskan kepada Yang Maha Penyembuh bahwa saya milik-Nya dan akan kembali ke pada-Nya, sang Maha Pemilik.
Ketika saya berada dalam kegundahan hati yang teramat sangat.. Saya pasrahkan & ikhlaskan kepada Yang Maha Pemberi Jodoh. “Ya Rabb, Engkau Maha Berkehendak & Maha Mengetahui yang terbaik buat hambanya, tunjukilah aku jalan-Mu ya Rabb..”
Keikhlasan kembali menyapaku lewat sebuah pilihan masa depan.. sudah kugantungkan mimpi dan cita cinta itu.. sudah pula ku genggam.. namun hilang sekejab hanya karena..??? “Ya Rabb, Engkau telah menggariskan jalan kehidupanku dalam LaumakhfudzMu.. hamba ikhlas menjalani semua ini, kehendak-Mu adalah terbaik untuk ku, sekarang dan nanti..”. Saat ini, ada yang berusaha menuntunku menemukan kembali mimpi kecil itu.. Saya hanya percaya bahwa pertolongan-Nya akan datang.. mungkin melalui hamba-Nya yang lain.. Subhanallah…
Ikhlas, satu kata hebat yang mampu mengambil energi kepasrahan diri yang sangat mendalam, membawa diriku hingga tanpa beban.. lapang & totalitas utuh kepada-Nya. Karena setiap tawa, gembira, tangis, sedih, hidup, dan matiku ini hanya untuk Rabb ku…
doubLe_dE BABS @Corps
Senin, 22 Februari 2010
Nama mU (CIDAHA)
Ku tulis namamu..
Di lembar diaryku yg lusuh..
Kusebut namamu lirih..
Bersama sengal nafasku..
Ku pahat namamu..
Diantara puing hatiku yang tercecer..
Kubayangkan semua tentangmu dalam khayalku..
Malam ini..
Ku kayuh dayung cintaku..
Kuarungi luasnya samudera jiwamu..
Untuk ku labuhkan perasaan ini..
Di Pelabuhan cintamu..
Kurangkai puisi sederhana ini..
Hanya untukmu..
Semoga Kau mengerti..
CIDAHAku..
created By De'BABS Corps
Sabtu, 30 Januari 2010
DILEMA
Ya Rabb ..
kuatkan dan tabahkanlah hatiku ini ..
Semoga ini jalan terbaik yang Engkau suratkan untukku
Sejujurnya aku merasa bimbang ..
Berada diantara 2 pilihan ..
Operasi atau kah tidak ..
Begitu sulit ku ambil keputusan ini ..
Hingga akhirnya ..
Aku putuskan untuk tidak operasi !!!
Tapi ...
Kenyataan mengantarku pada pilihan yang lain ..
Perlahan ....
Detik demi detik ..
Aku merasakan ketakutan yang teramat sangat ..
Aku begitu gelisah ..
Shock dengan kejadian yang sudah ..
Namun kini harus kembali kujalani ..
Ia semakin mendekat ..
Hanya beberapa jam dari saat ini ..
Perasaan takut itu kian membuncah di relung hati yang sepi ini ..
Aku gemetaran ..
Jiwa dan fikiranku seolah terhempas ke ruang gelap ..
Aku berlari sekencangnya dengan nafas tertatih-tatih ..
Lalu jatuh tersandung ..
Terjerembab ..
Dan .. ? ?
De'BABS Corp
Selasa, 24 November 2009
AKADEMISI DILARANG BERPOLITIK

Cetak
Masih teringat dibenak kita akan kebijakan politik orde baru yang mengekang aktivitas politik di dalam kampus. Selama lebih dari 30 tahun ruang gerak mahasiswa dibatasi hanya melakukan aktivitas akademisnya. Nuansa kampus menjadi sepi dari pergerakan politik secara nyata. Kampus seperti kuburan tanpa suara rakyat yang mesti diperjuangkan. Lingkungan kampus berada pada kekuasaan otoritas pemerintah. Semua kebijakan yang berlaku di kampus didesain untuk menghindari kritik dan keterlibatan mahasiswa serta seluruh stakeholder kampus dalam politik praktis.
Di era reformasi harapan untuk mendapatkan kebebasan berpolitik menjadi tuntutan seluruh warga Indonesia. Setiap orang berhak mengeluarkan pendapatnya dan berkecimpung di dunia politik. Namun, apakah harapan ini dapat berjalan sebagaimana mestinya? Apakah harapan dan tuntutan itu dapat berjalan secara adil dan menyeluruh? Apakah keterlibatan seluruh anak bangsa dalam dunia politik mendapatkan kesempatan yang sama?
Rupanya tidak semua warga negara dapat dengan mudah mendapatkan kebebasan berpolitik. Politik hanya dinikmati oleh golongan tertentu. Hanya orang-orang yang berpendidikan tinggi yang dapat mengakses dunia politik. Kalau dilihat dari jumlah penduduk Indonesia sebagian besar berpendidikan di bawah tingkat perguruan tinggi. Hanya kurang dari 30% masyarakat Indonesia yang lulus perguruan tinggi. Bahkan dari jumlah yang sedikit ini, para akademisi ini pun tidak serta-merta mudah menjadi politikus.
Para akademisi yang setia mengabdi pada ilmu yang digelutinya seolah-olah hanya diciptakan untuk hidup di dunia kampus. Ruang gerak mereka untuk memasuki dunia politik dibatasi secara nyata. Hanya sedikit dari para ilmuwan ini yang diikutsertakan dalam pengambilan kebijakan kenegaraan. Posisi-posisi dalam politik banyak dipegang oleh orang yang memiliki partai. Sedangkan bagi mereka yang murni dan ingin mengabdi pada negara dengan bermodal keprofesionalannya jumlahnya hanya sedikit. Padahal di Jepang telah muncul trend bahwa jabatan-jabatan politik akan dipegang oleh para ilmuwan atau orang-orang akademis.

Pembatasan ruang gerak para akademisi di dunia politik sangat terlihat pada akhir-akhir ini. Kasus tuduhan korupsi yang menimpa para akademisi kampus yang tidak memiliki basis massa partai politik adalah salah satu bukti kepongahan dari kebijakan pemerintah. Sebagai contoh kasus yang menimpa Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dan Prof. Nazarudin Samsudin adalah bukti tindakan KPK yang tebang pilih dalam pemberantasan korupsi. Para pengambil kebijakan secara pragmatis menjadikan para akademisi yang polos di dunia politik ini menjadi tumbal dalam mencari kepopuleran kebijakan politiknya. Sedangkan para koruptor kelas kakap dan mendapat backingan dari parpol dengan seenaknya berkeliaran. Inilah bukti ketidakadilan pemerintah dan manifestasi pemerintah yang untuk kesekiankalinya tidak menghargai jasa para ilmuwan. Atau apakah Indonesia memang benar-benar bukan bumi tempat tinggalnya ilmuwan?
Dua contoh kasus diatas (pengekangan mahasiswa pada zaman Orde Baru dan pembatasan ruang gerak para akademisi) menggambarkan bahwa indonesia belum menjadi daerah yang nyaman bagi para akademisi untuk berpolitik. Kondisi ini harus segera direformasi dan segera mengubah paradigma tentang peran para ilmuwan atau akademisi di dunia politik dan kenegaraan yang lebih besar. Semoga!
Sumarto
Senin, 23 November 2009
SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW MASA AWAL BI’TSAH

Cetak
Diri ini memohon ampun kepada Allah SWT atas keberanian untuk menuliskan sebuah kisah potret manusia agung yang tidak mungkin dapat diceritakan oleh diri ini yang terlalu dangkal ilmunya mengenai sosok nabi Muhammad SAW. Dari hati yang terdalam hamba ini memohon ampun apabila tulisan ini banyak kesalahan dan kekeliruan yang tidak mampu menggambarkan keluhuran dan keagungan nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad adalah anak dari pasangan Siti Aminah dan Abdullah yang tinggal di jazirah Arab. Muhammad dilahirkan pada tanggl 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah. Pada saat malam sebelum kelahirannya, sang ibu bermimpi melihat sebuah cahaya keluar darinya dan menerangi istana-istana raja Syam (Suriah). Sitti Aminah (Ibunda Rasulullah Saw) pernah berkata pula :
Ketika aku mengandungnya, aku tidak merasa bahwa aku sedang hamil. Baru saja keluar dari perutku, ia bersujud di atas bumi. Semenjak lahir, ia sudah bersujud kapada Allah Dzat Yang Maha Tunggal dan Maha Esa, subhanallah.....
Dan jauh sebelum sang ibu melahirkan, sang Ayah telah meninggal dunia, sehingga ia lahir ke dunia ini dalam keadaan yatim. Dan kasih sayang ibunya pun tidak berlangsung lama ia dapatkan, dimana ibunya pun segera menyusul ayahnya ke alam barzah. Dengan demikian tinggallah ia seorang diri tanpa ayah-bunda. Ketika kecil Muhammad pernah dibawa oleh Halimah as-Sa’diyah ke perkampungan Bani Sa’ad untuk disusukannya. Ada riwayat yang menceritakan Halimah mengatakan : Ketika masih kecil dulu, Nabi Muhammad saw pernah keluar tenda, kemudian merenung tentang bintang-bintang, langit, dan malam. Aku (Halimah) mengembalikannya ke dalam tenda. Namun, malamnya ia keluar lagi untuk memandang langit. Kali ini ia berkata, “siapakah yang menciptakan langit? Siapakah yang menciptakan bintang-bintang? Dan siapakah yang menciptakan alam semesta ini?” Maha suci Allah, banyangkan anak kecil yang baru berusia dua tahun sudah merenung tentang bintang-bintang, langit dan malam.
Sepeninggal kedua orang tuanya, kemudian kakeknya Abdul Muthalib mengasuhnya dengan penuh kasih saying, bahkan ketika ia duduk untuk makan, ia berkata, “ Aku tidak mau makan sampai kalian mendatangkan Muhammad.” Ketika mereka mendatangkan Rasulullah saw, beliau duduk di dekat kakeknya itu. Kalau sang kakek hendak bepergian, ia selalu membawa cucu tercintanya itu pergi bersamanya.
Namun, ketika usia beliau baru menginjak delapan tahun, ‘Abdul Muthalib’, sang kakek meninggal dunia. Sepeninggal kakeknya beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Namun sayang, sang paman meninggal dalam keadaan musyrik. Beliau telah telah berusaha untuk menunjukkan pamannya itu kejalan Allah (Islam). Namun catatan takdir telah menuliskan , “ Sesungghnya kamu tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya. “ (QS al-Qashash [28]: 56)
Abu Thalib sangat menyayangi dan melindungi Nabi Muhammad saw, dan sangat menghawatirkan keselamatan dirinya. Dalam sebuah sirah dikatakan bahwa ketika orang-orang kafir Quraisy mendatangi Abu Thalib dan mereka berkata kepadanya, “wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudara laki-lakimu itu telah menghina tuhan-tuhan kami, mencerca kami, dan menyerapahkan harapan-harapan kami. Jika saja ia terkena sihir, maka kami akan mengobatinya, Jika saja ia menginginkan kekuasaan, kami akan mengangkatnya sebagai penguasa. Jika ia menginginkan harta benda, kami akan mengumpulkan harta benda untuknya. Dan jika ia menginginkan seorang istri, maka kami akan mengawinkannya dengan seorang gadis yang paling cantik di kota Mekkah ini.”
Perkataan orang-orang Quraisy ini disampaikan oleh Abu Thalib kepada Raulullah saw. Mendengar itu, beliau berkata, “Wahai pamanku! Demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, seandainya mereka meletakan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (agama islam) ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya sampai aku berhasil atau aku mati karenanya.”
Rasulullah SAW, sewaktu berada di bawah pengurusan pamannya, merupakan contoh ideal bagi sikap qana’ah dan jauh dari perbuatan-perbuatan sia-sia yag biasa dilakukan oleh anak-anak kecil seusianya. Demikian seperti diriwayatkan oleh Ummu Aiman, wanita yang pernah mengurusnya. Itu tidak lain karena beliau sedang dipersiapkan oleh Allah untuk mengemban tugas menunjukkan umat manusia kepada Tuhan semesta alam. Tugas suci itu benar-benar terbukti. Akhlak dan perilaku Rasulullah tidak pernah ternodai oleh akhlak dan perilaku yang buruk. Tidak pernah ada penyimpangan dalam perilaku beliau. Sejak kecil hingga dewasa rasulullah mendapatkan julukan sebagai ‘al-amin’ atau orang yang terpercaya, julukan ini diberikan oleh penduduk Mekkah pada saat itu karena keluhuran dan kemuliaan akhlak beliau yang terbukti dan diakui oleh masyarakat Arab.
Ketika usia Nabi saw menginjak 25 tahun, beliau pergi ke Syam untuk ke dua kalinya setelah dahulu pernah di ajak oleh pamannnya untuk berdagang. Pada waktu itu, Khadijah binti Khuwailid al-Asadiyah adalah seorang saudagar kaya, dan suaminya telah meninggal. Kini usianya 40 tahun. Ia mencari seorang pemuda di kota Mekkah yang kiranya sanggup menjalankan roda perdagangan yang dimilikinya. Pemuda yang dicarinya adalah pemuda yang jujur. Ia tidak menemukan pemuda yang dicarinya selain Rasulullah saw yang terkenal dengan julukan al-amin. Sejak barang dagangannya di bawa oleh Rasulullah, barang-barang selalu laku terjual dan Khadijah selalu mndapatkan kuntungan yang besar. Sepulangnya beliau dari perjalanan bisnis ke Syam, Khadijah “ mengajukan’ dirinya kepada pemuda mulia itu untuk dinikahi. Beliau menerima pengajuan itu, lalu menikahinya.
Khadijah adalah sosok perempuan yang cerdas dan bijak lagi santun. Dialah yang selalu menghembuskan kekuatan moril ke dalam hati Rasulullah saw dan menguatkan tekad beliau di waktu-waktu yang sulit. Kepadanyalah Rasulullah saw mengadukan luka, derita, kesedihan, perjuangan, dan siksaan yang diterimanya dari kaumnya.
Ciri-ciri kenabian pada diri rasulullah telah terlihat dari mulai dia lahir, anak-anak,remaja dan dewasa. Diantara buktinya adalah pada saat rasulullah berumur 12 tahun diajak pamannya Abu thalib pergi ke Syam (Suriah) untuk berdagang, ketika dalam perjalanan rasulullah dan pamannya bertemu dengan pendeta nasrani bernama Buhaira. Ketika melihat Muhammad, ia tahu bahwa anak itu kelak akan menjadi seorang Nabi Allah, ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad seperti yang diterangkan dalam kiatab Taurat dan Injil. Buhaira berpesan kepada Abu Thalib, agar berhati-hati dari orang-orang Yahudi yang akan mendengki dan akan mengganggu anak saudara laki-laki Abu Thalib. Mendengar keterangan sang pendeta tentang Muhammad, Abu Thalib bergegas pulang ke Mekkah.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tahu bahwa Muhammad adalah seorang nabi yang di utus oleh Allah seperti yang dikabarkan dalam kitab Taurat dan Injil, namun kedengkian, kebencian dan permusuhan telah menghalangi untuk mengatakan dan mengakui kebenaran tersebut. Orang – orang Yahudi sebelumnya sengaja datang ke Madinah,hidup bersama-sama orang Arab. Sebab, mereka membaca Taurat dan Injil dan menemukan berita tentang Rasulullah saw. Mereka menantang orang-arang kafir dan musyrik Arab dengan mengatakan “ Nanti akan muncul seorang nabi, kami akan memerangi kalian bersamanya” mereka mengatakan demikian karena mengira bahwa Rasulullah saw itu akan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka juga menyebutkan sifat-sifat nabi yang akan datang itu, bahwa ia seorang laki-laki memiliki tinggi badan sedang, kulitnya putih kemerahan, ummi (tidak bias baca tulis), keluar diantara pohon-pohon kurma, menerima hadiah tapi tidak menerima sedekah, mempunyai kekuatan fisik yang sebanding dengan kekuatan 30 orang, dan ketika tidur, yang tidur hanya matanya sedang hatinya tidak. Semua ini adalah ciri-ciri Rasulullah.
Ketika orang-orang Yahudi melihat ciri-ciri tersebut ada pada diri Muhammad yang keturunan dari bangsa Arab, serta-merta mereka mengingkarinya dan berkata “ Bukan, dia bukan seorang rasul.” Ketika itu orang-orang al-Aus dan al-Khazraj berkata kepada orang-orang Yahudi, “ Inilah Nabi yang kalian beritakan kepada kami dahulu, dan ciri-cirinya sesuai dengan apa yang kalian sebutkan.” Orang yahudi malah berkata “Bukan, bukan dia orangya” Maka Allah SWT berfirman, ”Ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah [2]:89)
Ketika usia nabi menginjak 40 tahun, setelah kedewasaan dan pengendalian mentalnya sempurna, turunlah wahyu kepada beliau. Umur 40 tahun merupakan usia dimana seseorang telah mencapai tingkat kesempurnaan dalam hal kesiapan mental dan kedewasaan. Sebagaimana firman Allah mengatakan, “…..sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun….”
Ketika itu beliau saw sering keluar dari kota Mekkah dan menyendiri (ikhtila’) di sebuah tempat yaitu di gua Hira, ia menyendiri dan beribadah di gua tersebut selama beberapa malam. Kemudian beliau keluar dari gua untuk pergi kerumah untuk megambil perbekalan untuk melanjutkan ikhtila’ nya.
Pada suatu hari, ketika beliau berada di dalam gua, tiba-tiba seorang laki-laki masuk. Dia adalah malaikat Jibril. Rasulullah saw tidak mengenal dan tidak mengetahui siapa laki-laki tersebut. Begitu datang, Jibril langsung berkata kepadanya “Bacalah!” Nabi menajawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril berkata kembali, “Bacalah!” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Kemudian malaikat jibril memeluk nabi erat-erat lalu berkata, “Bacalah dengan [menyebut] Tuhanmu Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah Yang Paling Pemurah.” (QS. Al-‘Alaq [96]:1-3)
Selanjutnya Jibril membiarkanNabi membaca ayat yang baru dibacakannnya. Nabi saw gemetar dan sangat ketakutan atas kejadian yang tiba-tiba dan mengagetkan ini. Pikir beliau, dari mana gerangan laki-laki ini datang? Kemudian Beliau mencari Jibril, tetepi beliau tidak menemukannya lagi. Masih dalam keadaan ketaktan dan gemetar Nabi pulang menemui Khadijah. Sesampainya di rumah Khadijah, nabi berkata, “selimutilah aku, selimutilah aku!” Khadijah pun menyeliuti Beliau. Nabi berkata, “Aku khawatir akan diriku,” . mendengar itu Khadijah berkata, “sekali-kali tidak, demi Allah.” Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau selalu menyambungkan sailaturahmi, menanggung beban orang, membantu orang yang membutuhkan, dan menolong orang yang membela kebenaran,”
Setelah kejadian itu, turun lagi ayat yang berbunyi, “Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS.al-Muddastir [74]: 1-5)
Kemudian , untuk beberapa waktu wahyu tidak turun kepada beliau. Tentu saja Nabi merasa takut, sedih dan galau. Masa terputusnya wahyu adalah selama 40 malam. Dalam kesedihan tersebut ada sebuah riwayat bahwa pada masa-masa itu beliau naik ke puncak gunung dan terbesit keinginan untuk melemparkan dirinya dari gunung tersebut. Dalam kesedihan yang mendalam seperti itu, seorang wanita musyrik yang sudah renta berkata, “Tuhan Muhammad telah membencinya dan setannya telah meninggalkannya.” Maka turunlah ayat yang berbunyi, “Demi waktu matahari naik sepenggalahan, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak akan meninggalkan kamu dan tiada [pula] benci kepadamu.” Ayat ini jawaban bahwa, Allah SWT bersumpah demi waktu dhuha dan dengan kesunyian malam, bahwasanya Dia tidak membenci, meninggalkan, membiarkan, menjauhkan, dan menelantarkan Muhammad. Sebab beliau adalah kekasih Allah.
Kemudian wahyu-wahyu berikutnya turun dari Allah kepada Nabi saw secara berangsur-angsur dan setiap turun wahyu Nabi segera menyampaikannya kepada para sahabat dan penduduk Arab yang hidup pad jaman itu,
Demikianlah kisah awal Nabi Muhammad saw menerima wahyu dari Allah SWT dapat saya sampaikan, mudah – mudahan kisah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya serta mampu meningkatkan rasa cinta dan sayang kita pada Nabi Muhammad kekasih Allah.
Wa’allu A’lam…….

